Penjelasan Serta Manfaat Belajar Psikoterapi Islam

1. Ruqyah

Kata “therapy” (dalam bahasa Inggris) berarti makna pengobatan dan penyembuhan, sedangkan dalam bahasa Arab kata therapy sepadan dengan Syifa’un yang artinya penyembuh. Sedangkan Ruqyah adalah berasal dari bahasa Arab yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah jampi atau mantra.

Definisi psikoterapi ruqyah adalah proses pengobatan dan penyembuhan suatu penyakit, apakah mental, spiritual, moral maupun fisik dengan melalui bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi SAW. Dengan kata lain psikoterapi ruqyah berarti suatu terapi penyembuhan dari penyakit fisik maupun gangguan kejiwaan dengan psikoterapi dan konseling Islami dan menggunakan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a Rasulullah SAW.

Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah terapi ruqyah merupakan terapi dengan melafadzkan doa baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah untuk menyembuhkan suatu penyakit (Agil dalam http//www.pencaribakatkreatif. blogspot.com). Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah terapi ruqyah tidak terbatas pada gangguan jin, tetapi juga mencakup terapi fisik dan gangguan jiwa.

Terapi ruqyah, menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, merupakan salah satu metode penyembuhan yang digunakan oleh Rasulullah saw. Di samping metode ruqyah Rasulullah saw. juga menggunakan metode pembekaman, pemanasan, makanan, minuman, harum-haruman, lingkungan, dsb.

Dasar-dasar terapi ruqyah terdapat di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah., antara lain:

Di dalam Surat Al Israa’ ayat 82 Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan Al-Qur’an menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian” (Q.S. Al-Israa’: 82).

Di dalam beberapa Hadis disebutkan:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “خَيْرُ الدَّوَاءِ القُرْآنُ (رواه ابن ماجه).

Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Sebaik-baik pengobatan adalah (dengan) Al-Qur’an.” (H. R. Ibnu Majah).

Psikoterapi ruqyah dapat dikatakan sebagai komunikasi Ilahiyah yang antara lain aspeknya berupa dzikir dan doa.

2. Dzikir.

Secara harfiah dzikir berarti ingat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah ingat pada Allah.Ada banyak bentuk amalan dzikir, salah satunya adalah membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dengan berdzikir hati menjadi tenang sehingga terhindar dari kecemasan . Al-Qur’an sendiri menerangkan hal ini dalam surat Ar Ra’d ayat 28 yang berbunyi:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS.Ar Ra’d : 28)

3. Do’a.

Dalam Al-Qur’an juga terdapat bacaan yang mengandung ayat-ayat berupa do’a yang disebut dengan do’a Qur’ani. Hawari (1997) mengatakan do’a dalam kehidupan seseorang muslim menempati posisi psikologis yang strategis sehingga bisa memberi kekuatan jiwa bagi yang membacanya.

Do’a mengandung kekuatan spiritual yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme yang keduanya merupakan hal yang mendasar bagi penyembuhan suatu penyakit. Dengan berdo’a, ibadah mempunyai roh dan kerja atau amal memiliki nilai modal spiritual.

Melakukan psikoterapi ruqyah secara teratur adalah salah satu manifestasi dari menjalani kehidupan secara reigius dan banyak mengandung aspek psikologis didalamnya. Bahkan bagi seorang muslim, ini tidak hanya sebagai amal dan ibadah, namun juga menjadi obat dan penawar bagi seseorang yang gelisah jiwanya dan tidak sehat secara mental.

Dalam Al-Qur’an banyak diutarakan ayat-ayat mengenai obat (syifa’un) bagi manusia yang disebut dalam Al-Qur’an, diturunkan untuk mengobati jiwa yang sakit, seperti pada ayat-ayat Al-Qur’an berikut :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia!Telah datang nasihat dari Tuhanmu sekaligus sebagai obat bagi hati yang sakit ,petunjuk serta rahmat bagi yang beriman.”(QS.Yuunus : 57)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Kami turunkan dari Al-Qur’an ini, yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang mukmin.” (Al Israa’ : 82)

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Mereka itu orang yang beriman, yang berhati tenang karena ingat kepada Allah. Ketahuilah, dengan ingat kepada Allah hati menjadi tenang.” (QS.Ar Ra’d : 28)

4. Sholat

Obat-obatan memang bukanlah jalan satu-satunya untuk menyembuhkan suatu penyakit, meskipun demikian, bukan berarti kita meremehkan peranan obat-obatan tersebut. Akan tetapi kesembuhan suatu penyakit seringkali malah ditentukan oleh faktor dari dalam diri pasien itu sendiri.

Memang usaha untuk mencegah terjadinya penyakit kejiwaan tidak selamanya berhasil. Memang bagi mereka yang tidak memahami semua itu, hidup mereka akan selalu dilanda kegelisahan dan kecemasan yang berlarut-larut padahal bila mereka memahami apa yang menimpa pada diri mereka merupakan suatu batu ujian yang akan mengantar dirinya mampu meraih kedudukan mulia, insya Allah hati mereka bisa kembali tenang dan gembira.

Adapun untuk memperoleh ketenangan jiwa atau kegelisahan tersebut salah satu caranya adalah dengan mendirikan shalat.

Menurut al-Qur’an al-Karim, shalat adalah satu-satunya cara untuk membersihkan jiwa dan raga manusia. Shalat adalah merupakan salah satu ibadah yang menuntut gerakan fisik. Di dalam shalat ada 3 aspek yaitu fikiran, perkataan dan tindakan. Melaksanakan shalat tepat waktu dan ikhlas dapat menumbuhkan kedisiplinan.

Sebelum melakukan shalat, terlebih darhulu harus dibersihkan dari kotoran jasmani dan dapat mengkonsentrasikan pikiran pada Allah, selain itu, dalam gerakan shalat juga dapat membantu menyehatkan tubuh (fisik), karena sama dengan senam, sehingga dapat mencegah dan dapat sebagai penyembuh.

Shalat bukan hanya sebuah kewajiban yang harus dikerjakan dan dipatuhi oleh setiap muslim, tapi juga perlu dilakukan secara sungguh- sungguh sehingga mereka bisa merasakan manfaat positif dari shalat.

Prof. Dr. H.A. Saboe dalam bukunya “Hikmah Kesehatan dalam Shalat” mengatakan bahwa hikmah yang diperoleh dari gerakan-gerakan shalat tidak sedikit artinya bagi kesehatan jasmaniah dan sengan sendirinya akan membawa efek pula pada kesehatan rohaniah atau kesehatan mental jiwa seseorang.

Ditinjau dari ilmu kesehatan, setiap gerakan, sikap, serta setiap perubahan dalam gerak dan sikap tubuh pada waktu melaksanakan shalat adalah yang paling sempurna dalam memelihara kondisi kesehatan tubuh.

Shalat sering dipandang hanya dalam bentuk formal ritual, mulai dari takbir, ruku’, sujud dan salam, sebuah gerakan-gerakan fisik yang terkait erat dengan tatanan fiqh. Padahal bila kita mau merenung sejenak, di dalamnya terdapat simbol yang tidak sedikit. Banyak simbol hikmah yang dapat diambil dari postur, irama dan gerak ritmik tubuh ketika kita shalat. Mulai dari berdiri, mengucapkan takbir, ruku’, menunduk, sujud hingga terakhir salam, semuanya menjadi simbol dari siklus kehidupan yakni daur kehidupan yang dinamis.

Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi gerakan-gerakan shalat paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang obat dari berbagai jenis pnyakit.

BENTUK-BENTUK DAN TEKNIK PSIKOTERAPI

Muhammad Abd al-‘Aziz al-Khalidi membagi obat (syifa’) ke dalam dua bagian:

Pertama, obat hissi, yaitu obat yang dapat menyembukan penyakit fisik, seperti berobat dengan madu, air buah-buahan yang disebutkan dalam al-Quran. Sunnahnya digunakan untuk menyembuhkan kelainan jasmani.

Facebook Comments