Penjelasan Serta Manfaat Belajar Psikoterapi Islam

a. Psikoterapi Suportif:

Tujuan:

1). Mendukung funksi-funksi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada
2). Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.
3). Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.

Cara atau pendekatan melalui : bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.

b. Psikoterapi Reedukatif:

Tujuan: Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.

Cara atau pendekatan melalui : Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.

c. Psikoterapi Rekonstruktif:

Tujuan : Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.

Manfaat Psikoterapi

Manfaat psikoterapi sebagaimana firman Allah dalam QS. Yunus : 57

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

Manfaat Psikoterapi secara non spesifik, psikoterapi dapat menambah efektivitas terapi lain yaitu sebagai suatu yang spesifik atau khusus.

Psikoterapi merupakan rangkaian teknik yang digunakan untuk mengubah perilaku (teknik merupakan rangkaian tindakan yang dibakukan untuk mendapatkan perubahan tertentu, bukan urutan perubahan alamiah, sehingga harus dilatih untuk mencapai ketrampilan optimal).

Melalui psikoterapi seorang psikoterapis akan dapat memanfaatkan teknik-teknik untuk meningkatkan hasil yang ingin dicapainya. Bila seorang psikoterapis tidak mengerti atau memahaminya, sebetulnya bukan hanya tidak akan menambah efektivitas terapinya, melainkan setidaknya dapat menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan pasiennya (Mansur, 2005 : 8).

JENIS-JENIS KELAINAN JIWA

Klasifikasi jenis kelainan jiwa tidak pernah dibahas dalam Al-Qur’an baik secara eksplisit maupun implisit. Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada hanyalah mendeskripsikan faktor-faktor munculnya neurosis (intensitas masalah yang bersifat sedang terhadap jiwa) atau psikoasis (intensitas tinggi).

Faktor tersebut antara lain adalah faktor internal yang potensial yang dimiliki oleh manusia. Jenis-jenis kelainan jiwa akan muncul karena berbagai faktor, baik faktor eksternal maupun internal.

1. Faktor internal

Faktor internal ini dapat disebut sebagai potensi negatif yang dimiliki oleh seseorang, antara lain kikir, berbuat dzalim (aniaya), dengki, malas dan putus asa. Sifat-sifat internal tersebut adalah contoh dari kompleksitas potensi negatif manusia yang diterangkan dalam Al-Qur’an.

2. Faktor Eksternal

Yakni faktor yang berasal dari luar manusia, yang berasal dari pengaruh lingkungan dan sudah menjadi tradisi/culture di kalangan tertentu.

PSIKOTERAPI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Psikoterapi dapat diartikan sebagai perawatan jiwa atau pengobatan jiwa sebagaimana yang diungkapkan James (dalam Ancok dan Suroso, 2001 : 95) terapi terbaik bagi keresahan jiwa adalah keimanan kepada Tuhan. Al-Qur’an sebagai pedoman utama umat Islam juga telah menegaskan sebagaimana terdapat dalam QS. Al- Israa’ ayat 82 :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang zlaim selain kerugian

Dalam firman Allah yang lain juga dijelaskan :

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

Apakah (patut Al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah, Al-Qur’an adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang beriman dan petunjuk serta obat” (QS.Fushilat : 44).

Ayat-ayat tersebut mengandung pelajaran bahwa Al-Qur’an (agama) mempunyai fungsi terapi bagi gangguan (penyakit) jiwa yang memiliki ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri gangguan jiwa menurut Kanfer dan Goldstein (dalam Ancok dan Suroso, 2001 : 91) sebagai berikut :

a. Hadirnya perasaan cemas dan tegang dalam diri
b. Merasa tidak puas (dalam arti negatif) terhadap perilaku diri sendiri
c. Perhatian berlebih-lebihan terhadap masalah yang dihadapi
d. Ketidakmampuan untuk menangani masalah dengan efektif

Seringkali ciri-ciri tersebut tidak dirasakan oleh penderita akan tetapi orang disekitarnya akan merasakan akibat dari perilaku penderita. Gangguan jiwa muncul karena seringkali tidak mampu mengontrol diri atau jiwanya ketika menghadapi problematika kehidupan. Terlebih lagi tidak ada sandaran kepada Allah atau agama.

Segala jenis penyakit termasuk juga gangguan jiwa tentu ada dapat disembuhkan. Sebagaimana hadits berikut
Allah tidaklah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah menurunkan obatnya” (HR. Bukhori).

Manusia memiliki tugas untuk ikhtiar dalam mencari kesembuhan. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl : 69)

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Kemudian makanlah dari tia-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang macam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”.

Pada dasarnya terapi Islam terutama yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dapat diterapkan dan kemungkinan besar sembuh adalah bagi orang-orang muslim yang percaya akan kebenaran Al-Qur’an, sedangkan yang menjadi psikiater atau ahli terapinya adalah Allah SWT. Bukan berarti secara langsung Allah akan tetapi melalui orang-orang yang disebut psikiater yang bertendensi pada ajaran-ajaran Allah semata.

Jadi antara psikiater dan dan klien keduanya harus bertendensi pada firman Allah, karena Islam memberikan ajaran terapi untuk kesehatan mental. Seorang individu akan memiliki mental yang sehat selama dia mau berperilaku sesuai ajaran agama dan norma masyarakat.

Sebaliknya, jika menyeleweng terutama terhadap aturan agama maka orang tersebut telah terjangkit penyakit jiwa. Oleh karena itu harus segera dikembalikan kepada tingkah laku yang sesuai dengan ajaran agama.

TERAPI MENURUT AL-QUR’AN

Banyak ayat Al Qur’an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena Al Qur’an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin .

Segala bentuk terapi yang menggunakan media atau digali dari Al-Qur’an misalnya seperti : ruqyah, dzikir, doa dan sholat.

Facebook Comments