Pembagian Mukjizat Berdasarkan Jenisnya

Demikian juga bila ditinjau dari aspek penalaran, mukjizat yang bersifat kauniyah terutama untuk membuktikan kebenaran seorang nabi justru tidak lagi relevan dengan tingkat pemikiran manusia yang lebih maju pada masa Nabi Muhammad bila dibanding dengan sebelumnya. Oleh karena itu, pandangan Rasyid Rida dapat diterima dalam perspektif di atas. Manna’ al-Qaththan dalam karyanya juga melihat bahwa mukjizat para nabi terdahulu diberikan menurut akal pemikiran masyarakat yang pada masa itu masih berada pada fase perkembangan, jadi tidak melihat sesuatu yang lebih dapat menarik hati selain mukjizat alamiah yang hissiyah (indrawi) karena pemikiran mereka belum mencapai puncak ketinggian dalam bidang pengetahuan dan sistem berpikir sebagai mestinya.

Jadi, yang lebih tepat ialah jika setiap rasul itu diutus kepada kaumnya secara khusus, dan mukjizatnyapun hanya berupa kejadian luar biasa yang sejenis dengan apa yang mereka kenal selama itu. Ketika tingkat pemikiran mereka sudah sampai kepada tingkat yang sempurna, maka Allah mengumandangkan kedatangan risalah Muhammad yang abadi kepada seluruh umat manusia. Suatu mukjizat bagi risalahnya juga berupa mukjizat yang ditujukan kepada akal manusia yang telah berada dalam tingkatan kematangan dan perkembangan yang paling tinggi.

Adapun kejadian-kejadian aneh dari kenabian sebagaimana yang sudah terlihat di atas, selain berbentuk al-Qur’an, dalam pandangan Rasyid Rida hal itu sejauh mana al-Qur’an menerangkan secara eksplisit bahwa yang demikian adalah benar-benar terjadi pada diri seorang nabi, demikian pula untuk menolak sebuah kejadian yang disebut mukjizat, keduanya harus lewat pernyataan kitab suci al-Qur’an. Disamping itu, Rasyid Rida mengakui kasus-kasus yang menyimpang dari adat kebiasaan dan menganggap yang demikian tidak bertentangan dengan akal, hanya saja di luar kelaziman yang ditemukan secara umum.

Apa yang terjadi pada Nabi Musa, yaitu tebelahnya laut, yang demikian merupakan mukjizat nabi Musa, dan kejadian menyimpang di sini tetap bisa dipandang sebagai sesuatu yang masih dapat diterima akal, dan didalamya tidak berkumpul dua hal yang saling bertentangan dan tak ada yang menghalangi terjadinya atas perbuatan Tuhan lewat tangan nabi Musa bahkan kita wajib mempercayainya. Nabi telah meminta kepada orang arab untuk menandingi al-quran. Mereka tidak mampu menantangnya, padahal mereka mempunyai kecakapan dalam bidang falsafah dan balaghah. Hal ini adalah karena al-quran mu`jiz.

Rasul telah meminta orang arab untuk menandingi al-quran dalam tiga marhalah :

Meminta orang arab menantangi al-quran dengan uslub yang melengkapi seluruh orang arab dan orang lain, jin dan manusia dengan firman Allah :

“katakanlah”: sesungguhnya jika berkumpul manusia dan jin untuk mendatangkan yang seperti al-quran ini, pastilah mereka tidak dapat mendatangkan yang sepertinya, walaupun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Nabi meminta mereka barang sepuluh surat saja daripada al-quran :
“ataukah mereka berkata : dia (Muhammad) telah membuat-buatnya. Katakanlah :datangkanlah sepuluh surat yang sepertinya, yaitu surat-surat yang kamu buat-buat dan panggilah orang-orang yang kamu sanggup memanggilnya selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Kemudian nabi meminta mereka menantang dengan sebuah surat saja, firman Allah :
“apakah mereka mengatakan” dia telah membuat-buatnya. Katakanlah kalau benar yang kamu katakan datangkanlah sebuah surat yang sepertinya dan panggilah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benr.

Dan Allah mengulangi tahaddi ini dalam firman-Nya :
“dan jika kamu dalam keragu-raguan dari apa yang telah kami turunkan kepada hamba kami, maka datangkanlah sebuah surt yang sepertinya dan panggilah penolong penolong kamu selain Allah jika kamu sekalian orang-orang yang benar.”

Orang-orang arab yang pantang di tantang itu tidak sanggup menantangi al-qur`an mereka menorah kalah. Tak seorang pun yang mampu menantangnya, dengan demikian terbuktilah kemukjizatan al-quran.

Kelemahan orang arab dari menantangi al-quran padahal cukup sebab-sebab yang mengharuskan mereka menantanginya adalah bukti nyata, bahwa orang arab yang masih mekar itu tidak mampu menantangi al-quran.

Kei`jazan alquran tidak saja terhadap bangsa arab, bahkan terhadap segala bangsa yang lain. Terus-menerus sepanjang masa.
Al-quran sampai sekarang meminta orang yang mengingkarinya menantang. Rahasia alam yang terus menerus diungkap oleh ilmu-ilmu modern.tiada lain hanyalah hakikat-hakikat yang tinggi yang dicakup oleh rahasa ujud ini, yang diterangkan dalam al-quran ini. Atau diisyaratkan kepadanya. Maka al-quran merupakan mu`jiz.

1. Cara-cara kei`jazan al-quran

Ulama kalam beraneka pendapat dalam menetapkan kei`jazan al-quran
Al-nadhdham dan al-murtadha berpendapat, bahwa kei`jazan al-quran adalah dengan jalan shirfah, yaitu Allah memaingkan orang arab dari menantangi al-quran, padahal mereka sanggup menantanginya, Allah memalingkn ereka, itulah yang dikatakan menyalahi adaptasi (kebiasaan).

Demikianlah menurut an-nadhdham, dan makna shirfah menurut al-murtadha, ialah Allah mencabut ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menantangi al-quran. Maka kelemahan orang-orang arab bukanlah ketidak sanggupan untuk menantangi al-quran, tapi qadar Allah yang tetapkan, itulah yang melemahkan mereka.

Kita berpendapat bahwa kei`jazan al-quran tetap berlaku sepanjang masa bukan karena Allah mencabut kemampuan orang arab menantanginya. Segolongan ulama berpendapat bahwasanya al-quran mu`jizat dengan balaghahnya yang belum ada tandingannya.

Lanjutkan Artikel Pada Halaman Selanjutnya

Facebook Comments