Pembagian Mukjizat Berdasarkan Jenisnya

Fenomena pertama, menurut Rasyid Rida, dengan tegas dapat dilihat misalnya terhadap kasus yang terjadi pada nabi Musa dimana tidak ditemukan sama sekali hakikat dan bentuk suatu usaha di dalamnya. Demikian juga misalnya terhadap perintah untuk keluar bersama dari Bani Israil. Semua itu atas perintah Tuhan tanpa sebab sesederhana apapun dari Nabi Musa. Hanya saja Allah memerintahkan untuk memukulkan tongkatnya kepermukaan laut.

Adapun jenis kedua, dimana Rasyid Rida mengemukakan kisah yang terjadi pada nabi ‘Isa, yang menurutnya secara lahir masih dapat dikategorikan kepada penyimpangan dari satu kebiasaan yang masih memiliki unsur usaha yang dilakukan di dalamnya. Jadi ada hukum sebab akibat dalam proses kejadiannya. Cuma saja menurut Rasyid Rida, sebab pertama di sini berada dalam tingkatan rohani. Pada awalnya ibunya telah mengandung (hamil) atas tiupan Ruh Tuhan yang Mulia, lewat Malaikat Jibril ‘alaihi al-Salam, dengan demikian ia merupakan sebab yang serupa dengan seandainya kehamilan ini dilakukan lewat hubungan seksual (setubuh) dengan seorang laki-laki, dan semua ini atas kekuasaan Allah.

Perbedaan dari dua macam fenomena tersebut, oleh Rasyid Rida, hanya dilihat dari proses munculnya fenomena yang menyimpang dari kebiasaan. Perbedaan antara memukulkan tongkat dengan kelahiran dapat dibuktikan dengan jelas. Yang pertama menunjukkkan kekuasaan Tuhan tanpa lewat satu sunahpun dari sunah-sunahNya yang nampak, sedangkan yang kedua tidak serupa dengan bentuk pertama. Bentuk pertama ini menunjukan kekuasaan Tuhan, kehendak atas pilihanNya atau perbuatanNya menurut pandangan manusia biasa, karena jauh dari undang-undang sebab akibat dimana perbuatan manusia biasa dapat berlaku di dalamnya.

Kita sering menilai sesuatu itu mustahil karena akal kita telah terpaku dengan kebiasaan-kebiasaan atau dengan hukum-hukum alam dan juga hukum sebab akibat yang dilihat hanya dalam perspektif material dan konkret, sehingga bila ada sesuatu kejadian yang tidak sejalan dengan hukun-hukum itu kita segera menolak dan mengatakan hal itu tidak mungkin. Dalam kehidupan ini, ada yang disebut sebagai hukum alam, yakni ketetapan Tuhan yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata seperti hukum sebab akibat. Manusia memang mengetahui hukum-hukum tersebut, tapi belum lagi mengetahui seluruhnya. Khususnya terhadap Nabi Muhammad, Rasyid Rida berpendapat bahwa ia tidak diberi mukjizat selain Al-Qur’an.

Dia tidak membenarkan adanya mukjizat kauniyah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW., apalagi penyimpangan itu betul-betul jauh dari pemikiran akal sehat manusia, seperti terbelahnya bulan, dan berusaha mentakwilkan ayat yang menyebutkan adanya penyimpangan yang terjadi terhadap ciptaan Tuhan dalam kebiasan serta menentang adanya hadis yang menetapkan adanya mukjizat kauniyah yang diterima nabi SAW. Menurut Rasyid Rida, kita tidak wajib mengimani sesuatu yang menyimpang dalam diri seeorang sejak dari nabi Muhammad. Satu kasus yang pernah terjadi pada masa nabi Muhammad dimana seorang wanita meminta kepada Nabi untuk menyembuhkan penyakitnya. Yapi nabi justru menjawab dan memberi petunjuk bahwa bersabar atas musibah yang menimpa wanita itu lebih baik baginya, kendatipun akhirnya Nabi mendo’akan wanita itu.

Memang pada bab ini ia tidak banyak mendiskusikan tentang apakah Al-Qur’an sebagai mukjizat nabi merupakan bukti atas kenabian Muhammad. Di sini yang penting adalah bahwa dalam era ini sudah merupakan era dimana Islam sebagai petunjuk dan tidak banyak menuntut apakah yang dibawa Muhammad itu adalah sebagai bukti atau tidak, sebab masyarakat sudah berada pada tarap kebudayaan dan pemikiran maju yang bisa menilai ajaran yang dibawa Nabi terakhir itu. Dalam perspektif mufassir moderpun melihat bahwa apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an itu sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ini sekaligus sebagai bukti atas kejujuran dan kebenaran Muhammad.

Adapun terhadap penyimpangan (mukjizat) yang terjadi pada nabi selain Muhammad itu memang diakui adanya. Menurut pandangannya, beberapa keistimewaan dan keganjilan yang diberikan Tuhan kepada nabi-nabi itu memang benar adanya, tapi ia hanya sebagai penghormatan dari Tuhan kepada nabi-nabiNya, bukan merupakan bukti atas kebenaran ajaran atau kenabiannya. Hal ini barangkali dapat dilihat dari pandangan , jika mukjizat dikatakan sebagai pembuktian kebenaran seorang nabi, maka bagi orang yang sudah percaya kepada nabi, tidak lagi membutuhkan mukjizat. Kemudian jika mukjizat itu meyakinkan umat setiap nabi, maka boleh jadi umat yang lain dapat melakukannya. Kemungkinan ini lebih terbuka bagi mereka yang berpendapat , termasuk Rasyid Rida, bahwa mukjizat pada dasarnya berada dalam jangkauan hukum-hukum Allah yang berlaku di alam. Namun ketika hal itu terjadi, hukum-hukum tersebut belum lagi diketahui oleh masyarakat nabi yang bersangkutan.

Pendapat di atas juga berlandaskan ayat 59, surat al-Isra’: “dan sekali-kali tidak ada yang mengahalangi Kami untuk mengirimkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan kami melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang terdahulu”. Atas dasar ini pulalah Rasyid Rida misalnya menolak pendapat yang mengatakan bahwa bulan pernah terbelah dua pada masa nabi Muhammad SAW. sebagai pembuktian (mukjizat) terhadap kaum musyrikin yang waktu itu meminta pembuktian, kendatipun ada hadis tentang terbelahnya bulan pada masa Nabi diriwayatkan oleh banyak ‘ulama, antarlain: Bukhari, Muslim, Ahmad dan sebagainya, bahkan menurut Ibn Katsir riwayat tentang hal itu adalah mutawatir dan sanad-sanadnya yang sahih.

Dengan demikian di sini nampaknya Rasyid Rida sebenarnya bukan menolak mukjizat sebagai sebuah fenomena yang terjadi pada diri seorang nabi selama ada teks Al-Qur’an yang menyebutkan itu, tapi ia menolak mukjizat bisa dijadikan sebagai bukti kenabian atau kebenaran suatu ajaran yang dibawa nabi bersangkutan. Sedangkan terhadap Nabi Muhammad , satu-satunya mukjizat yang ada hanyalah berbentuk kitab suci dan Rasyid Rida menolak sama sekali mukjizat kauniyah yang sering digambarkan ada pada diri Nabi Muhammad itu.

Menurut Rasyid Rida, ayat pertama surat al-Qamar yang berartikan “telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan” bukanlah menunjuk terbelahnya bulan, akan tetapi kalimat insyaqqa al-qamar artinya telah jelas argumentasi dan bukti kebenaran ajaran yang dibawa Muhammad”. Menafsirkan ayat tersebut dengan terbelahnya bulan, oleh Rasyid Rida dipandang sebagai suatu hal yang bertentangan dengan kenyataan sejarah serta menimbulkan problem ilmiah dan logika, dan bertentangan pula dengan penafsiran ayat 59 surat al-Isra’ sebagaimana tersebut sebelumnya. Disamping berlandaskan ayat itu juga ia berlandaskan pada hadis Nabi yang ditakhrijkan oleh Bukhari dan Muslim dan Abu Hurairah yang artinya: “tiap-tiap nabi itu diberi mukjizat yang dapat menjadikan manusia beriman kepadanya. Tapi aku (Muhammad) hanya diberi wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku, maka aku mengaharap semoga pengikutku paling banyak di hari kiamat nanti.

Lanjutkan Artikel Pada Halaman Selanjutnya

Facebook Comments