Pembagian Mukjizat Berdasarkan Jenisnya

Pada tulisan kali ini kita akan membahas tentang apa itu mukjizat. Mukjizat menurut arti kata bahasa Arab bermakna “melemahkan” maksudnya melemahkan kekuatan, melemahkan kecerdikan. Dengan mukjizat tersebut, banyak orang yang dilemahkan kekuatannya sehingga tidak dapat melawan si pembawa mukjizat.

Ada dua jenis mukjizat, yang pertama adalah mukjizat “hissi” dan mukjizat “maknawi”.

Mukjizat “hissi” adalah segala keajaiban yang dapat dilihat ataupun dapat dirasakan oleh panca indera. Mukjizat tangan, salah satunya seperti tangan dengan kemampuannya melunakkan besi yang tidak sanggup dilakukan oleh selain dari yang diberi mukjizat tersebut, ataupun tangan yang mampu menampakkan cahaya putih bersih tiada bercacat (sebagaimana yang dimiliki oleh Nabi Musa) yang walaupun terkesan sederhana tetapi tidak dapat dilakukan oleh orang lain selain Nabi Musa.

Di masa sekarang manusia cenderung menggunakan akal, sehingga banyak kejadian yang dianggap ajaib tidak lagi diukur melalui mukjizat “hissi” seperti dapat menembus ruang dan waktu dan yang sejenisnya, melainkan diukur dari seberapa layak hal tersebut dapat dianggap sebagai ajaib berdasarkan nalar. Sebagai contoh kalau anda dapat mendatangkan seseorang yang mampu terbang di udara, bukan tidak mungkin seseorang akan mengganggap hal tersebut sebagai bagian dari tipuan mata. Tetapi jika secara nalar dapat dibuktikan bahwa hal tersebut bukanlah tipuan mata melainkan dapat dibuktikan secara ilmiah maka disitulah letak keajaibannya yaitu pada dalil pembuktiannya secara ilmiah. Mengapa harus demikian ? Ini dikarenakan adanya kecenderungan manusia di masa sekarang yang lebih suka mempercayai segala sesuatu berdasarkan kenyataan atau pengamatan empirik. Dan untuk memberikan kepastian bahwa di masa sekarang masih dapat terjadi yaitu adanya keajaiban, maka harus ada keajaiban yang bukan bersifat “hissi” melainkan keajaiban yang “maknawi”, yaitu keajaiban yang dapat diterima oleh nalar (akal).

Dan nampaknya untuk yang terakhir tersebut masih dapat ditemukan dan akan selalu ditemukan selama manusia masih ada, yaitu di Al Quran. Mengapa ? Ya, Karena di Al Quran banyak dimuat keajaiban-keajaiban yang belum dapat dipahami oleh akal manusia, kecuali yang sesuai dengan perkembangan nalar manusia di setiap jaman.

Al Quran diperuntukkan bagi seluruh umat manusia dan untuk sepanjang masa, sehingga di dalamnya harus termuat sedemikian cukup keajaiban “maknawi” bagi setiap generasi manusia yang ada serta siap dibuktikan kebenarannya secara nalar dan sesuai kenyataan (empiris). Sebagaimana yang ditegaskan oleh Al Quran sendiri, yaitu

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. QS,6:38

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quraan itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? QS, (41:53)

Lanjutkan Artikel Pada Halaman Selanjutnya

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*