Hubungan Kenakalan Remaja Dengan Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam sangat erat sekali kaitannya dengan pendidikan pada umumnya. Pendidikan Islam bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan siswa terhadap Allah SWT. Tujuan pendidikan Islam yang sejalan dengan misi Islam yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlakul karimah. Adapun tujuan utama dari pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, jiwa yang bersih, kemauan yang keras, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi. “Tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang dilakukan melalui proses pembinaan secara bertahap” (Muh. Athiyah Al-Abrasyi, 1974)

Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam di nilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang menurut pandangan Islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera di dunia dan di akherat. Kehidupan manusia melalui beberapa tahap perkembangan di antaranya yaitu masa remaja. Remaja adalah bagian umur yang sangat banyak mengalami kesukaran dalam hidup manusia di mana remaja masih memiliki kejiwaan yang labil dan justru kelabilan jiwa ini mengganggu ketertiban yang merupakan tindakan kenakalan. Dalam perkembangan hidupnya remaja dipengaruhi oleh dua faktor yaitu intern dan ekstern. Faktor intern berasal dari individu itu sendiri sedangkan faktor ekstern berasal dari luar individu. Kedua faktor tersebut yang kemudian akan membentuk kepribadian remaja. “Masa remaja adalah masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa usia 12-21 tahun “ (Singgih. D Gunarsa, 1994: 255), secara global masa remaja berlangsung antara umur 12-21 tahun, dengan pembagian umur: 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan, 18-21 tahun masa remaja akhir.

Remaja sangat peka terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Masa remaja merupakan masa pancaroba, pada masa transisi dari kanak-kanak menjadi dewasa ini ditandai dengan emosi yang labil dan berusaha untuk menujukkan identitas diri. Bimbingan dan perhatian orang tua sangat diperlukan agar remaja tidak terjerumus pada hal-hal yang negatif. Pendidikan agama yang baik dalam keluarga adalah salah satu contoh perhalian orang tua terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bermoral. Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja adalah kurangnya pendidikan agama dalam keluarga. Sudarsono (1995: 125) menerangkan bahwa keluarga yang dapat menjadi sebab timbulnya delinkuensi dapat berupa keluarga yang tidak normal (broken home/Quasi broken home), keadaan ekonomi keluarga yang minim menimbulkan permasalahan yang kompleks sehingga akan mendorong anak-anak menjadi delinkuen. Di samping itu juga orang tua kurang memiliki bekal dan mendidik anak dan kurangnya pendidikan agama di dalamnya.

Keluarga yang tidak menanamkan pendidikan anak sejek kecil, sehingga mereka tidak dapat memahami norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan yang baik yang sesuai dengan ajaran agama tidak dicontohkan orang tua kepada anak sejak kecil. Kebiasaan-kebiasaan yang baik yang dibentuk sejak lahir akan menjadi dasar pokok dalam pembentukan kepribadian anak. Apabila kepribadian dipenuhi oleh nilai agama, maka akan terhindarlah anak dari kelakukan-kelakuan yang tidak baik.

Bambang Mulyono (1998: 42) mengatakan bahwa keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menempati kedudukan yang primer dan fundamental dalam kehidupan manusia. Jalaludin Rachmad dan Muhtar Ganda Atmaja (1994: 20) menyatakan bahwa salah satu fungsi keluarga adalah fungsi religius. Fungsi religius berkaitan dengan kewajiban orang tua untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan melibatkan anak serta anggota keluarga lainnya, mengenai kaidah-kaidah agama dan perilaku keagamaan. Fungsi ini mengharuskan orang tua sebagai tokoh inti dan panutan dalam keluarga untuk menciptakan iklim keagamaan dalam kehidupan keluarganya.

Keluarga adalah suatu institusi yang terbentuk karena suatu ikatan perkawinan antara sepasang suami istri untuk hidup bersama seia sekata, seiring dan setujuan, dalam membina mahligai rumah tangga untuk mencapai keluarga sakinah dalam lindungan dan ridha Allah SWT. “Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang bersifat informal yaitu pendidikan yang tidak mempunyai program yang jelas dan resmi, selain itu keluarga juga merupakan lembaga yang bersifat kodrati, karena terdapatnya hubungan darah antara pendidik dan anak didiknya” (Soewarno, 1992: 66-67). Di dalamnya selain ada ayah dan ibu juga ada anak yang menjadi tanggung jawab orang tua. Menurut M. Arifin (1995: 74) bahwa keluarga adalah persekutuan hidup terkecil dari masyarakat yang luas. Keluarga merupakan ladang terbaik dalam penyemaian nilai-nilai agama. Pendidikan dan penanaman nilai-nilai agama harus diberikan kepada anak sedini mungkin salah satunya melalui keluarga sebagai tempat pendidikan pertama yang dikenal oleh anak. Menurut Zuhairini dkk (1995: 182) bahwa pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama, tempat anak didik pertama-tama menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tua atau anggota keluarga lainnya.

Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda, karena pada usia ini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikan (orang tua dan anggota lain). Manusia dalam menuju kedewasaannya memerlukan bermacammacam proses yamg diperankan oleh bapak dan ibu dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan wadah yang pertama dan dasar bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Pengalaman empiris membuktikan bahwa institusi lain diluar keluarga tidak dapat menggantikan seluruhnya peran lembaga bahkan pada institusi non keluarga, seperti play group sangat mungkin adanya beberapa nilai yang negatif yang berpengaruh jelek bagi pembentukan dan pendidkan anak terutama pendidikan akhlak (Faiz, 2001: 70).

Kesadaran orang tua akan peran dan tanggung jawabnya selaku pendidik pertama dan utama dalam keluarga sangat diperlukan. Tanggung jawab orang tua terhadap anak tampil dalam bentuk yang bermacam-macam. Konteknya dengan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan, maka orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Bagi anak orang tua adalah model yang harus ditiru dan diteladani. Sebagai model seharusnya orang tua memberikan contoh yang terbaik bagi anak dalam keluarga. Sikap dan perilaku orang tua harus mencerminkan akhlak yang mulia. Oleh karena itu Islam mengajarkan kepada orang tua agar selalu mengajarkan sesuatu yang baik-baik saja kepada anak mereka. Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq Said bin Mansur yang terdapat dalam buku Abdullah Nasikh Ulwani (1999: 186) Rasulullah SAW bersabda:

عَلمُوْا أَوْلاَ دَ آُمُ الْخَيْرَ وَ أَ د بُوْهُمْ (روه عبد الرزق وسعيدبن منصور)

“Artinya : Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anak kamu dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik “.(HR. Abdur Razzaq bin Manshur)

Pembentukan budi pekerti yang baik adalah tujuan utama dalam pendidikan Islam. Karena dengan budi pekerti itulah tercermin pribadi yang mulia, sedangkan pribadi yang mulia itu adalah pribadi yang utama yang ingin dicapai dalam mendidik anak dalam keluarga. Namun sayangnya, tidak semua orang tua mampu melakukannya. Buktinya dalam kehidupan di masyarakat sering ditemukan anak-anak nakal dengan sikap dan perilaku yang tidak hanya terlibat dalam perkelahian, tetapi juga terlibat dalam pergaulan bebas, perjudian, pencurian, narkoba, dan sebagainya.

Perilaku seksual remaja sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Hasil penelitian terhadap remaja di Jakarta telah membuktikan bahwa dalam berpacaran mencium. Perilaku seksual remaja sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Hasil penelitian terhadap remaja di Jakarta telah membuktikan bahwa dalam berpacaran mencium bibir, memegang buah dada, memegang alat kelamin lawan jenis dan bahkan sampai malakukan senggama, sepertinya merupakan hal biasa bagi para remaja. Bahkan ada diantara mereka yang merasa senang melakukannya (Sarlito Wirawan Sarwono, 1981: 27). Ironis memang, tetapi inilah kenyataan objektif dalam kehidupan dikalangan remaja. Tentu saja masalah ini tidak berdiri sendiri, tetapi banyak faktor yang menjadi penyebabnya, yang antara lain karena keluarga yang broken home, kurangnya pendidikan agama, miskinnya pendidikan akhlak, atau karena kesalahan memilih teman.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*